Latest Entries

1:1 | Jakarta Biennale 2009

2 Kanal Video Instalasi / 2 Channel Installation Video
Durasi: 3 min (loop)
Tahun: 2009

Karya site-specific ini awalnya kami buat untuk diproyeksikan dalam ruangan besar(rr) di sebuah mall besa(rrr) di Jakarta. Namun karena tiba-tiba timbul masalah perjanjian antara panitia Biennale dengan mall tersebut, dipindahlah karya ini ke dalam sebuah ruangan galeri yang kecil(ll).

Agak sulit bagi kami untuk menuliskan kembali statement setelah lokasi karya ini berpindah. Maka segala kritik sosial yang awalnya ingin kami lontarkan, kami simpan dulu di dalam hati, semoga suatu saat kami dapat kesempatan untuk membuat karya ini kembali di dalam ruang lain dengan ukuran-ukuran absurd. Karya ini kini lebih bermain dalam imajinasi ruang dan waktu, melontarkan pertanyaan/pernyataan (yang mudah-mudahan) menggelitik pikiran kita semacam:

Saat ini, di tempat itu.
Saat itu, di tempat ini.

Berikut ini statement kami terdahulu yang mudah-mudahan masih afdol dibaca, dan suatu hari nanti bisa di-karya-kan kembali.

1:1
Absurditas tipikal yang terjadi dalam sebuah negara berkembang seperti Indonesia adalah: pembangunan mall bergerak sama laju dengan pertumbuhan penduduk dan tingkat kemiskinan. Ketika pemerintah seharusnya menyediakan fasilitas untuk perumahan, pendidikan, dan kesehatan untuk penduduk yang kian melambung, yang terjadi justru adalah pengambilalihan tempat-tempat tersebut. Fasilitas kebutuhan primer mayoritas penduduk perlahan-lahan berubah fungsi menjadi fasilitas kebutuhan tersier bagi minoritas: fungsi pasar tradisional diambil alih oleh hipermart, perkampungan menjadi apartemen, taman kota menjadi mall. Nilai ekonomi yang dulu bertindak sebagai penyangga struktur sebuah kota, kini berperan sebagai penguasa yang berpotensi mengubah tatanan kota beserta aspek sosial budayanya.

1:1 mengonversi ruangan di dalam mall menjadi area imajiner sebuah pemukiman. Dengan seluruh area lantai yang ditandai sebagai denah rumah beserta lingkungan (detail ruang tengah, kamar tidur, dapur, hingga gang dan lapangan badminton), dan permukaan dinding yang diproyeksikan gambar interior-interior rumah dan suasana sekitar pemukiman, 1:1 membawa pengunjungnya ke sebuah ruangan dengan tiga dimensi waktu: area imajinasi pemukiman sebagai memori, ruang (fisik) pameran sebagai masa sekarang, dan wacana/pertanyaan yang kemudian diajukan oleh dua dimensi tersebut: akan menjadi apakah ruang ini selanjutnya? Sorotan proyeksi gambar elemen-elemen pemukiman yang memenuhi dinding menghadirkan sosok pengunjung sebagai bayangan, menjadikan karya ini semi teatrikal. Pengunjung dapat menikmati ‘ruang imajiner’ dengan duduk di tempat duduk, tidur di tempat tidur, dan bermain bulutangkis di lapangan (walau rendahnya langit-langit ruangan akan menghambat permainan). Dengan hadir di dalam karya ini, pengunjung berubah-ubah peran sebagai penghuni lama (pemukim), penghuni baru (pengunjung mall), maupun sebagai penguasa yang telah atau akan menentukan nasib ruangan tersebut.

Karya ini juga menghadirkan pertanyaan ironis: sejauh apakah manfaat sebuah ruang kosong (baca: unwanted space) di dalam sebuah mall (yang bahkan saking kosongnya dijadikan ruang bagi sebuah biennale seni rupa), ketimbang sebuah lahan pemukiman tempat hidup 5 keluarga.

Paint Ball on Canvas

Interactive video installation /
Single channel projection and paint-balled canvas.
Year: 2008

The Portrait of the Painting as the Market’s Target

Venue:
10th Year Anniversary of Selasar Sunaryo Art Space
Selasar Sunaryo Art Space
Bandung, Indonesia

Orchestration

This single channel video piece depicts interactions between a male and a female figure, with each of them occupying their areas.

Venue:
Intimate Distance
Indonesian Women Artists
National Gallery Indonesia
2007

Writer/Director: Prilla Tania & Ariani Darmawan
Performers: Herra Pahlasari & Adhyasa




Meet Mister Greet

This video-accordion performance is a commissioned project from the French Cultural Centre. This performance consists of three main elements: the live performance played by two actors, a single channel video projection as a narrative medium, and the live music by Pascal Contet, a French accordionist.

Venues:
Le Grand Soufflet Festival
Rennes, France
15 November 2008
7 PM

Cemara Gallery
Jl. HOS Cokroaminoto 9-11
Jakarta, Indonesia
Monday, 20 November 2006
7 PM

Amphitheatre Selasar Sunaryo Art Space
Jl. Bukit Pakar Timur 100
Bandung, Indonesia
Friday, 17 November 2006
7 PM

Conception and Ariani Darmawan / Prilla Tania
Music Improvisation Pascal Contet
Performers Gemiano / Bennanda

Rec It

Rec It is a VideoBabes’ screening program that showcases Bandung artists’ video works. This program is designed to provide young video makers an outlet for their creativity. The call out is opened for public, and different theme is proposed for each screening.

Rec It 1: Love Is


(VideoBabes, Erik Pauhrizi/Banung Grahita, Mizuho Matsunaga)

RecIt 2: Everydayness


(Mizuho Matsunaga, Rizaldi Fachruddin, Herra Pahlasari)

RecIt 3: Independence Day


(Tumpal Tampubolon, M. Akbar, A. Darmawan)

Video / Hits / Art

The idea of Video / Hits / Art is to show the wide spectrum of ideas that is produced by artists from different areas and backgrounds, particularly by Bandung’s artists in the last three years. This presentation reflects how each artist has formed their conception of art and also the medium itself.  The wide range of artist initiatives that are invited here in this exhibition illustrates the young people’s enthusiasm in pursuing their expressions in video practice in shaping new conceptions both within and outside their society.  Consider this exhibition as an open-page catalog that you can flick through without having to criticise or to judge, as the forms of these videos are always reforming themselves each second and each frame, giving us only a space to… look.

In co-operation with: Bandung Short Film Festival, Bandung Center for New Media Art, Video Lab.

Brit Nite Out

Brit Nite Out is a British Council’s music video workshop program, facilitated by VideoBabes. 12 amateur videomakers from Bandung and Jakarta were invited to participate in this workshop, conducted by professional music video directors: Cerahati and Jadugar. The results of the workshops were screened in two of the most prominent clubs in each city.



Copyright VideoBabes © 2004–2009. All rights reserved.

RSS Feed. This blog is proudly powered by Wordpress and uses Modern Clix, a theme by Rodrigo Galindez.